Menghadirkan Paskah Sebagai Penguat Untuk Single Mom

Halo Mamos, Single Mom! Apakah sudah siap merayakan Paskah dengan Si Kecil? Bagaimana  dengan keranjang telur, baju paskah, easter bunny dan segala pernak- perniknya. Rasanya hampir sama meriahnya dengan perayaan Natal. Tapi, yang sebentar lagi kita rayakan adalah Paskah.

Sebagai seorang orang tua tunggal, merayakan hari raya apapun dapat terasa sedikit lebih menantang dari pada hari-hari lain pada umumnya. Jika orang lain dapat merayakan hari raya dengan penuh kehangatan keluarga, kita sebagai single mom, seringkali ditemani dengan rasa kesepian yang tiba-tiba kita sadari kehadirannya. Hari raya dapat membuat kita merasa stess dan merasa terkucilkan.

Tak jarang pula, single mom yang baru saja mengalami perpisahan ( entah karena pasangan berpulang maupun bercerai) merasa malu atas status baru mereka. Dihantui oleh rasa bersalah terhadap anak karena membiarkan anak harus mengalami hal ini.

 

menghadirkan paskah sebagai penguat untuk single mom

 

Keistimewaan Paskah dalam Perjalanan Spiritual Seorang Single Mom.

Paskah selalu menjadi hari raya yang paling istimewa untuk saya pribadi. Oh ya, saya Ikha, seorang Single Mom by Choice ( Ibu Tunggal Tidak Menikah ). Sudah 19 tahun lamanya saya menjadi seorang Single Mom by Choice. Tentu saja kita semua tahu bahwa Paskah merupakan Hari Wafatnya Isa Almasih yang mungkin lebih familiar dengan Wafat Yesus. Well, pasti semua tahu hari itu, karena hari itu pasti merupakan tanggal merah di hari Jumat.

Sebenarnya mengenang Paskah bukanlah suatu hal yang mengenakkan. Bicara tentang paskah sama artinya dengan membicarakan sengsara, wafat, dan kebangkitan. Dan siapa yang suka membicarakan hal yang sedih – sedih yaa kan? Sebagai seorang single mom, seringkali saya merasa sedang memikul salib saya. Merasa bahwa saya sedang dihukum Tuhan.

Tantangan, rintangan, dan kesulitan terus menerus datang silih berganti tanpa henti. Menerima pandangan sinis dan cemooh dari orang-orang di sekitar. Kelelahan fisik dan psikis juga tak dapat dihindari, Hati yang berulang kali patah. Rasa putus asa yang membelenggu. Entah mengapa pertolongan yang ku nantikan tak kunjung datang.

Tak terhitung berapa banyak saya menangis. Doa pun sudah tak dapat diungkapkan dengan kata, hanya air mata yang mengalir menyampaikan doa dan permohonan kepada Tuhan. Saya merasa sebagai orang yang paling sengsara di dunia. Apakah saya pernah ingin menyerah? Sebagai manusia biasa ( belum jadi Santa), tentu saja masa-masa itu saya alami. Ada masa dimana saya merasa kecewa kepada Tuhan ketika saya terbangun di pagi hari. Saya juga bertemu dengan masa dimana saya sengaja menjauh dari Tuhan.

10 tahun lalu barulah saya memahami arti Paskah yang sesungguhnya.

Paskah tak hanya berhenti pada wafat Yesus. Paskah menjadi Paskah karena Yesus bangkit dari kematian. Jika Yesus tidak pernah bangkit, maka tak akan ada Paskah, tak akan ada harapan.

Ya, sebagai pengikut Kristus, dengan sadar dan rela hati saya bersedia menjalani apa yang telah menjadi bagian takdir. Kesadaran membawa saya pada satu cahaya untuk melihat bahwa Tuhanku memberikan kekuatan. Dia dengan setia mendampingi dalam setiap perjalanan. Sejak saat itulah saya merasa banyak pertolongan Tuhan yang saya alami.

Sebagai seorang ibu, saya berusaha membesarkan anak laki-laki saya dengan baik. Memberinya teladan untuk tidak menyerah dan terus berusaha. Saya melakukan apa yang terbaik yang saya bisa. Menangis? Mengeluh ?
Hal itu wajar. Tapi, tidak untuk meratapi nasib terlalu lama.

Bagaimana saya sanggup menjalani 19 tahun menjadi single mom? Ada 3 alasan setidaknya yang menguatkan langkah saya untuk terus melewati hidup dengan segala kesadaran di dalamnya.

1. Tuhan memberi kekuatan pada saya. Fix, no debate!

Hanya karena cintanya saya bisa melewati satu per satu kesulitan dalam hidup ini. Bagaimana Dia telah memudahkan apa yang sulit di mata manusia. Sebuah kekuatan yang datang tepat waktu untuk memberikan kasih sayang pada manusia.

2. Rasa Cinta.

Saya mencintai anak saya dengan sungguh -sungguh dan tulus. Hal itu membuat saya membayangkan bahwa Yesus secinta itu dengan kita sampai mau wafat di kayu salib.

3. Menjaga Pelita Harapan.

Ketika segala sesuatu terasa gelap dan tak ada jalan keluar, akan ada saat batu besar terguling dan kubur pun terbuka, Seberat dan segelap apapun masalah yang sedang kita hadapi , maka akan ada saat dimana kita akan dapat bangkit dan menang atas masalah tersebut.

Kristus telah Bangkit ! Alleluya ! Semoga keajaiban Paskah memberi Mamos iman, pengharapan, sukacita dan cinta. Selamat merayakan Paskah, Mamos.

 

Editor dan Ilustrator: Ans

=============================================

TENTANG PENULIS

Ketika Rasa Minder Menyerang

 

 

 

 

 

Martina Ikha Rustriana Sari Adalah seorang member komunitas SIngle Moms Indonesia , Big sister dan juga volunteer. Seorang single mom by choice dengan seorang putra yang mulai beranjak dewasa. Bekerja sebagai tutor matematika. Senang untuk mempelajari banyak hal.

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *