Fatherless Dan Pengaruhnya Dalam Tumbuh Kembang Anak

Akhir-akhir ini kita sering mendengar istilah Fatherless. Dilansir dari salah satu artikel di Narasi.tv, Fatherless adalah mereka yang kehilangan peran ayah dalam kehidupan dan pengasuhan. Peran di sini dalam arti kehadiran sosok seorang ayah dengan segala tanggung jawabnya, bukan secara fisik saja.

Secara mengejutkan, hal ini terjadi bukan hanya pada keluarga single moms, tapi justru di banyak keluarga dengan komposisi lengkap. Indonesia bahkan diklaim sebagai negara dengan tingkat fatherless ketiga terbesar (sumber:Narasi.tv).

Salah satu member komunitas Single Moms Indonesia,  Mamos Susi, berbagi opini dari pengalaman tentang hal ini.

Apa sebenarnya Fatherless ini dan bagaimana itu bisa terjadi. Kita mulai dulu dengan apa definisi keluarga?

Keluarga menurut KBBI orang yang memiliki hubungan darah, hubungan kekerabatan yang mendasar pada masyarakat, terdiri dari ayah sebagai kepala keluarga, ibu dan juga anak. Pernikahan adalah salah satu cara untuk membangun sebuah keluarga secara legal dari dua orang yang berbeda, latar belakang, karakter, kebiasaan, pendidikan dan pengalaman.

Masing-masing pihak harus menyadari sepenuhnya bahwa perbedaan dalam pernikahan itu bukan untuk diperdebatkan atau diseragamkan.

Ini adalah tentang bagaimana membuat kesepakatan bersama untuk mengelola perbedaan tersebut agar bisa saling melengkapi dan mengisi kekurangan satu sama lain. Hidup di lingkungan yang masih begitu kental dengan budaya Patriarki telah menempatkan peran ayah bertanggung jawab sebagai pencari nafkah dalam keluarga. Sedangkan ibu lebih bertanggung jawab urusan domestik dan mengurus anak.

Fatherless Dan Pengaruhnya Dalam Tumbuh Kembang Anak

Ini juga yang terjadi pada sebagian keluarga. Baik disadari atau tidak.

Ayah, biasanya adalah sebagai pencari nafkah utama dalam keluarga, menyebabkan seorang ayah akan lebih banyak mengabiskan waktu di luar rumah. Tidak jarang pula membawa pulang pekerjaan yang belum tuntas untuk diselesaikan di rumah. Di saat libur pun seorang ayah lebih sering memilih istirahat/tidur lebih lama.

Terkadang, seorang ayah lebih sibuk dengan hobby sendiri, menghabiskan waktu bersama teman temannya. Seringkali seorang dengan peran ayah tidak memiliki komitmen dan konsistensi untuk berusaha mengganti hari hari yang terlewati dengan lebih banyak bersama dengan anak saat libur.

Kesibukan ini tak pelak menyebabkan minimnya kesempatan seorang ayah dapat hadir secara fisik dan terlibat langsung dalam proses pertumbuhan dan perkembangan seorang anak. Karakter ayah seperti ini sangat mungkin terbentuk dari pengalaman dan pola pengasuhan yang dulu didapatkan dari orang tuanya.

Ayah yang sering abai bahkan lupa peran pentingnya dalam proses pengasuhan anak. Pola pikir untuk mempercayakan sepenuhnya bahwa anak adalah mutlak urusan seorang ibu.

Seorang ayah yang tidak tahu dan tidak mau belajar tentang apa dan bagaimana sesungguhnya peran dan tugasnya di dalam keluarga, akan membuat ia merasa tidak ada yang salah dengan dirinya sendiri. Bila kondisi tersebut berlangsung terus menerus dalam sebuah keluarga, pada akhirnya anak akan mengalami kondisi fatherless.

Ini adalah sebuah kondisi dimana anak kehilangan figur ayah dalam proses kehidupan dan pertumbuhannya.

EFEK YANG MUNGKIN terjadi pada anak yang mengalami kondisi fatherless diantaranya:
  • Terhambatnya proses pembentukan identitas gender.
  • Ketidakmandirian.
  • Ketidakstabilan emosi.
  • Berkurangnya respect terhadap lawan jenis.
  • Penurunan kemampuan akademis.
  • Akan mudah terpengaruh pergaulan yang tidak baik yaiu kejahatan dan kenakalan remaja.
Ayah yang baik dan bertanggung jawab akan berperan aktif, dalam proses pengasuhan anak. Hal ini akan dilakukan sekalipun dalam situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan bisa hadir secara fisik.

Kecanggihan teknologi dan alat komunikasi saat ini yang banyak sekali memberikan kemudahan, dapat dimanfaatkan sebagai salah satu alternatif untuk tetap bisa berperan aktif dalam proses pengasuhan anak.

Harus ada komitmen yang kuat dari seorang ayah untuk mau belajar dan memahami bahwa semua urusan pengasuhan anak dan domestik bukan hanya tugas seorang ibu. Ini adalah tugas kedua orang tua yaitu ayah dan ibu. Keseimbangan peran ayah dan ibu mutlak diperlukan dalam sebuah keluarga, kedua orang tua harus bisa hadir secara fisik dan psikis dalam proses kehidupan anak.

Inilah sejatinya visi dan misi dalam membangun sebuah keluarga, menyadari dan memahami peran ayah dan ibu. Sehingga bisa menjadi partner yang solid dalam mewujudkan makna dari definisi ‘keluarga’ yang sesungguhnya.

Begitu yang Mbak Susi tuliskan dari pengalaman beliau.

Sebagai tambahan, dari editor:

Apakah dalam hal ini anak-anak yang tumbuh dalam keluarga single mom mengalami hal yang sama? Apakah ketidak beradaan ayah kemudian menjadi sebab mungkinnya kondisi fatherless ini terjadi?

Dalam banyak kasus mungkin iya, tapi sebenarnya hal ini tetap bisa diminimalisir. Beberapa hal berikut yang mungkin bisa dijadikan catatan untuk kita sebagai single mom:

  • Kehadiran sosok paman, kakek, kakak, bisa menjadi sosok pria/father bagi anak-anak single mom. Mereka bisa melihat sosok ideal seorang ayah dan role model pria yang baik pada orang-orang di sekitarnya. Sosok ayah ini tidak harus dalam arti kata ayah yang dalam hubungannya sebagai bapak biologis.
  • Anak-anak single mom, secara emosional sudah lebih mengerti bahwa mereka memang tidak dibersamai oleh ayahnya. Entah karena perceraian, kematian atau single mom by choice, anak seorang single mom sudah tahu bahwa memang ayah tidak bersama mereka. Sehingga intensitas harapan tentang sosok ayah mungkin tidak sebanyak anak-anak yang memang masih hidup bersama ayah mereka. Tidak ada harapan tinggi dengan kekecewaan yang tinggi tentang hal ini. Salah satu yang bisa memudahkan seorang single mom untuk mengantisipasi isu fatherless ini.
Peran seorang ayah penting dalam kehidupan seorang anak. Ini jelas dan tentu saja benar. Namun bukan berarti dengan hidup di keluarga single mom seorang anak lantas pasti mengalami hal ini.

Peran dan sosok ayah bisa didapatkan dari orang-orang sekitar, dengan bimbingan dan pengarahan yang baiik, memberikan kasih sayang, cinta dan contoh, bisa membuat seorang anak single mom sekali pun mendapatkan sosok ideal seorang ayah/pria dalam kehidupannya.

Editor & Ilustrasi: Ans

================================================

Tentang penulis

Susi Bahrie

 

 

 

 

 

 

 

Susilawati

Lahir di Lampung 25 Oktober 1976, alumni Teknik Industri dari salah satu Universitas di Kota Bandung, Jawa Barat. Susi, nama panggilannya, penyuka warna coklat, hobby membaca, olahraga beladiri, travelling dan berorganisasi. Seorang ibu tunggal dari seorang putra yang menginjak fase remaja, menyempatkan belajar literasi di sela sela kesibukan bekerja di salah satu klinik kesehatan hewan.

Life is a journey cara dia menjalani kehidupannya dan memegang motto ‘Apapun diri anda jadilah hebat.’

Spread the love

1 thought on “Fatherless Dan Pengaruhnya Dalam Tumbuh Kembang Anak

  1. Yanti Reply

    Selalu kagum dengan Single Mom satu ini, selalu berpikiran maju walaupun terkurung dalam ‘bird cage’ yang hampir mengharuskan segala sesuatu untuk status sebagai perempuan maupun sosok seorang bunda. Persahabatanan selama hampir 20 tahun dan melihat naik turun nya jalan kehidupan Moms Susi membuat IA nya menjadi hari ini. Berjuang terus…. ada awal pasti ada akhir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *