Soal Co-Parenting

 

Co-parenting itu apaan sih Mbak?” Ada member SMI yang nanya minggu lalu.

Intinya, co-parenting itu saat dua belah pihak yang sudah berpisah/bercerai sepakat untuk membesarkan anak bersama. Secara hukum, saya dan mantan suami berbagi hak asuh (shared custody) sejak 6 tahun lalu dengan saya sebagai primary caregiver yang artinya anak lebih banyak tinggal dengan saya.

Susah nggak Mbak?

Ya awalnya susah banget apalagi namanya juga baru cerai kan. Emosi masih amburadul, hati masih sakit, rasanya susah banget buat ‘berdamai’ walaupun tujuannya penting: demi anak!

Gimana caranya minggirin ego yang udah tersakiti itu? Nggak ada rumus telak buat yang satu ini. Yang pasti kalau saya kesel, gondok saya buru-buru mikirin si kecil. Semua komunikasi dengan si Bapak yah untuk kepentingan anak kan. Mulai dari urusan sekolah, urusan disiplin, sampai soal bagi jadwal weekend (dulu waktu mantan masih tinggal di Jakarta, anak saya tiap dua minggu sekali nginep di rumah Bapaknya). Untuk hari libur besar keagamaan pun kami bagi-bagi. Misalnya tahun ini Natalan anak saya sama Bapaknya, nanti Natalan tahun berikut sama saya.

Tujuannya satu aja: demi anak!

Jadi perasaan tersinggung, sakit hati, kesel, emosi saya yah nggak penting sebenarnya karena it is not about me! It is about the child involve. Anak yang orang tuanya bercerai.

Belajar kompromi juga dibutuhkan buat ngejalanin co-parenting. Kadang-kadang kita harus menyesuaikan dengan kondisi yang ada. Contohnya, harusnya anak weekend ini sama Bapaknya, tapi mendadak Bapaknya ngabarin kalau dia harus ke luar kota urusan kerjaan. Nah kalau begitu, saya minta Bapaknya untuk ngomong sendiri ke si anak. Saya jadi ‘penghubung’ saja.

Waktu pertama kali mulai co-parenting saya tekankan ke keluarga besar saya untuk tidak menjadikan anak sebagai mata-mata. Maksudnya? Ya jangan pernah nanya-nanya ke anak “Gimana di rumah Daddy? Ada Tante?” Tidak adil banget buat anak kalau dijadikan mata-mata. Anak nginep sama Bapaknya itu aja yang penting. Saya juga percaya Bapaknya care sama anak jadi ya udah itu aja yang utama bukan? Awalnya keluarga sempat keberatan waktu saya membuka jalur komunikasi lagi dengan mantan suami. Wajar karena mungkin pihak keluarga juga tersakiti akibat perceraian kami tapi saya jelaskan pelan-pelan bahwa walaupun kami bercerai alangkah baiknya saya tidak merebut hak anak untuk berhubungan dengan Bapaknya. Bersyukur sekali sekarang keluarga sudah memahami dan malah menerima mantan dengan baik.

Momen paling besar itu waktu anak saya lulus TK dan saya bersama Bapak anak saya bisa duduk sebelahan melihat acara kelulusan anak-anak. Foto bareng bertiga di panggung. Si kecil sampai nangis karena terharu ngeliat ibu dan bapaknya bisa berdiri di samping dia. That was the best co-parenting moment buat saya.

Perceraian itu hanya antara suami dan istri, bukan dengan anak. Alangkah indahnya kalau kita bisa memberikan ‘hadiah’ co-parenting ini kepada anak. Trust me, menelan harga diri dan ego kita akan berbuah manis saat anak merasa bahwa walaupun orang tuanya bercerai, mereka tetap memiliki dan merasakan cinta dari ayah dan ibunya.

Gimana dengan kamu, Moms? Pengalaman co-parenting apa yang bisa dibagi? Silahkan tinggalkan komen ya.

Spread the love

1 thought on “Soal Co-Parenting

  1. Citra oktari Reply

    Bagaimana cara mendiskusikan co parenting dengan pasangan yang sama sekali tidak berniat untuk berbagi hak asuh?
    Pasangan saya ingin saya bersikap baik padanya dan istrinya.
    Tapi ketika saya meminta untuk berbagi hak asuh seperti mengajak anak jalan-jalan,berkomunikasi dengan anaknya, dia tak mampu berkomitmen. Akhirnya saya yang harus terus mengingatkan. Tidak ada kesadaran dari dirinya untuk melaksanakan kewajibannya pada anak. Kalaupun beralasan kebanyakan hanya sebuah kebohongan. Contohnya: saya ga bisa ajak anak pergi main karen sibuk bekerja padahal dia pergi jalan-jalan dengan istri barunya.
    Jika saya mulai cerewet mengenai pembagian pengasuhan anak, saya dibilang belum bisa move on.
    Saat ini saya memilih untuk diam dan tak banyak menuntut. Tetap tidak ada kesadaran darj pihak mantan suami. Walhasil anak saya enggan bertemu ayahnya. Pernah dia bertemu dengan ayahnya namun reaksinya membuat saya sedih. Dia ketakutan. Padahal usianya baru 3 tahun. Mudah-mudahan ada saran bagi saya. Terimakasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *