Hari Raya Galungan: Kisah Seorang Ibu Tunggal di Bali

Bagi saya yang merupakan seorang ibu tunggal karena perceraian, Galungan menjadi lebih dari sekadar perayaan agama dan budaya. Galungan adalah saat yang penuh makna di Bali, ketika dharma, atau kebaikan, menang atas adharma, atau kejahatan. Ini adalah pengingat hidup bahwa kekuatan sejati muncul ketika saya tetap mampu berdiri tegak dalam dharma. Meskipun dihadapkan pada stereotip budaya dan keyakinan yang membatasi (adharma) yang saya alami di tahun pertama perceraian.

Bagi banyak perempuan, terutama di lingkungan yang masih kental dengan nilai-nilai patriarki. Kondisi ini membuat keadaan menjadi ibu tunggal setelah perceraian bisa menjadi ujian yang sangat berat. Kita dihadapkan pada ekspektasi sosial yang tidak adil, stereotip yang merendahkan, dan bahkan penghakiman dari lingkungan sekitar. Namun, di tengah semua itu, perayaan Galungan memberi kesempatan untuk merenungkan betapa saya telah menemukan kekuatan dan keteguhan hati dalam menghadapi segala rintangan.

 

Hari Raya Galungan: 
Kisah Seorang Ibu Tunggal di Bali


Saat merayakan Galungan, saya menghidupkan kembali semangat perjuangan dan keberanian dalam diri. Saya mengingat bahwa hidup bukanlah tentang seberapa banyak saya dipengaruhi oleh keyakinan yang membatasi atau stereotip yang ada. Hidup adalah tentang bagaimana saya bertahan teguh dalam nilai-nilai kebenaran dan kebaikan yang dianut. Galungan adalah momen di mana saya menghormati perjuangan sendiri, serta semua perempuan yang berjuang dengan keberanian di tengah stereotip dan norma yang membatasi.

Ini adalah waktu untuk mengakui bahwa saya telah melampaui batasan-batasan yang diletakkan oleh adharma ( yang cenderung bersifat negatif . Juga bahwa saya terus berjalan di jalan dharma ( yang cenderung bersifat positif ), membawa cahaya dan harapan bagi diri sendiri dan juga anak saya. Dalam perayaan Galungan, saya tidak hanya merayakan kemenangan dharma atas adharma secara luas. Tetapi juga kemenangan saya sendiri atas semua rintangan dan kendala yang dihadapi sebagai seorang ibu tunggal.

Semoga perjalanan yang saya bagikan senantiasa dapat menjadi contoh nyata dari kekuatan dan keteguhan hati seorang perempuan. Terutama sebagai perempuan yang memilih untuk menjalani peran sebagai Ibu Tunggal selama lebih dari satu dekade.

Galungan adalah saat yang sempurna untuk menghormati dan merayakan hal itu. Dalam setiap doa di setiap upacara Galungan, saya meneguhkan diri untuk terus hidup dalam kebenaran dan kebaikan versi diri sendiri.

Saya ingin menunjukkan kepada dunia bahwa tidak ada stereotip atau keyakinan yang membatasi yang dapat mengalahkan tekad seorang ibu yang berdiri tegak. Seorang wanita yang berdiri untuk melindungi dan membesarkan anak-anaknya dan juga merangkai masa depan yang lebih indah. Memenuhi segala hal dalam dirinya dengan cinta dan keberanian. Sebagai ibu tunggal yang berjuang, saya ingin menjadi contoh nyata dari dharma yang hidup dan bergerak di dunia.

Dengan setiap langkah yang saya ambil dan setiap keputusan yang dibuat, saya menegaskan bahwa kebaikan dan kebenaran akan selalu memenangkan tiap pertarungan. Bahkan di tengah-tengah kesulitan dan stereotip sekalipun.

Selamat merayakan Galungan, sebagai pengingat akan kekuatan sejati semua ibu tunggal di seluruh dunia yang menempatkan kebaikan dan cinta di atas segalanya.

Editor dan Ilustrator: Ans

Spread the love

1 thought on “Hari Raya Galungan: Kisah Seorang Ibu Tunggal di Bali

  1. Mama Raka Reply

    Bagus bangget tulisannya mba..sungguh mengena dihati *menempatkan kebaikan n cinta di atas segalanya*
    Tidak mudah mmg sbg ibu Tunggal namun semua di depan mata mesti dilalui ..
    Semoga kita dpt membuat anak kita bangga dg mamanya yg selalu mencintai smpe usia kita usai ..Tuhan mmberkati…
    Selamat merayakan hari raya Nyepi ..
    Tuhan mmberkati
    Salam kenal…ma¬≤ Raka ..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *