Hari Kartini 2023: Amati, Tiru dan Modifikasi

Hari Kartini selalu membawa kesan tersendiri buat saya. Meskipun saat jaman sekolah dulu saya lebih senang membaca kisah pahlawan seperti Cut Nyak Dhien atau Martha Christina Tiahahu, tapi Ibu kita Kartini ini adalah pahlawan yang berjuang dengan cara berbeda, dengan tujuan yang berbeda. Di masa sekarang ini, perjuangan ala Kartini lebih mengena buat saya.

Bukan yang maju perang melawan Belanda atau menyerukan perubahan, namun yang berjuang lewat pendidikan dan pemberdayaan bagi kaum perempuan. Atau dalam kasus saya, karena saya bergabung di Single Moms Indonesia, ya para ibu tunggal di Indonesia.

Tapi Kartini kan hidup di awal tahun 1900an dan kita sekarang sudah melewati lebih dari 1 dekade. Kartini masih berkirim surat, kita sudah pakai Tiktok. Apa yang masih relevan?

Hari Kartini 2023: Amati, Tiru dan Modifikasi

Dalam berbisnis ada yang namanya Amati, Tiru dan Modifikasi. Alias metode ATM, yang seringnya digunakan untuk menciptakan peluang bisnis yang unik, kreatif dan berdaya saing. Ini juga yang saya aplikasikan pada semangat perjuangan Kartini agar tetap relevan dengan apa yang saya kerjakan sebagai volunteer divisi Learning & Development di Single Moms Indonesia.

Di Hari Kartini ini, saya mencoba melihat perjuangannya dari sudut pandang berbeda.

Amati

Tidak seperti bisnis yang mengamati kompetitornya secara langsung, Kartini yang saya kenal hanyalah dari buku sejarah, film dan literatur yang ada di luar sana. Kartini lahir di keluarga bangsawan, yang menjadi kekuatan sekaligus modalnya dalam perjuangan. Kartini menyelesaikan pendidikan hingga usia 12 tahun sebelum akhirnya dipingit. Selama masa dipingit, Kartini tidak diam saja melainkan bertukar surat dengan sahabatnya di Belanda, tetap belajar dengan membaca buku dan akhirnya menyadari bahwa perempuan Indonesia tertinggal jauh dari perempuan Belanda yang lingkungannya berpikiran lebih terbuka.

Tiru

Dari sepenggal kisah Kartini yang saya temukan itu, apa yang bisa ditiru?

Pertama, Kartini tidak keluar jalur. Tetap mengikuti budaya dipingit, dan mematuhi keluarganya. Perjuangan tidak melulu jadi pemberontakan namun bisa dilakukan dalam koridor yang sesuai tanpa harus bentrok secara langsung dengan pihak lain. Kedua, Kartini itu kreatif. Ketika dipingit, dia membaca surat kabar langganan Ayahnya, bertukar cerita dengan sahabatnya. Jadi tidak berhenti belajar sambil menggunakan resources yang sudah tersedia. Ketiga, perjuangannya aktif dan bukan pasif. Setelah mendapatkan pengetahuan yang cukup dan menyadari masalah yang ada, Kartini juga bergerak. Tetapi tidak dengan menuntut, melainkan dengan permisi. Atas ijin ayahnya, Kartini membuka sekolah di rumah. Lalu setelah menikah, atas ijin suami, dia membuka sekolah di kompleks kantor Kabupaten Rembang.

Modifikasi

100 tahun sudah berlalu, apa yang dilakukan Kartini tentu saja banyak yang harus dimodifikasi. Dulu lulus SD saja sudah bersyukur, sekarang banyak perempuan Indonesia yang memiliki gelar Doktor atau Profesor. Bagaimana dengan Ibu tunggal?

Ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk membantu ibu tunggal bangkit dan berdaya tanpa keluar jalur yang ada. Misalnya dengan menyediakan resources and support group yang mudah diakses oleh mereka. Support group Kartini adalah teman-teman bersuratnya. Di jaman serba digital sekarang ini, kita bisa memodifikasinya melalui media sosial. Jaman dulu mungkin Kartini hanya bisa bercerita ke beberapa sahabatnya. Sekarang dengan sekali posting IG Feed, kita bisa menjangkau banyak manusia.

Kalau sekolah Kartini hanya di rumah atau kantor suami, dengan bantuan teknologi seperti Zoom, kelas Single Moms Indonesia bisa diadakan online dan menjangkau ibu tunggal di seluruh Indonesia. Metodenya juga tetap sama. Menyadari ada kebutuhan, lalu melakukan apa yang kita mampu untuk menjawab kebutuhan tersebut. Membuka akses baru, bukan protes agar akses yang ada bisa terbuka untuk semua. Misalnya, bekerja sama dengan berbagai pihak untuk membuka kesempatan bagi single moms untuk mendapatkan modal usaha, mendapatkan konseling yang dibutuhkan, mendapatkan kesempatan yang sama untuk belajar dan bersaing di dunia profesional.

Melalui proses amati, tiru dan modifikasi, saya bukan menganggap Kartini sebagai kompetisi, melainkan sebagai inspirasi. Apa yang sudah dilakukan oleh Ibu Kita Kartini itu disesuaikan dengan kemajuan zaman dan kondisi saat ini.

Ayo, kita berjuang bersama menjadi ibu tunggal berdaya dan menjadi Kartini masa kini bersama SMI!

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *