Menyikapi Pemberian Kasih Sayang untuk Anak Single Mom

Momentum hari raya bagi seorang single mom yang suaminya telah berpulang seringkali menghadirkan perasaan haru biru. Walau telah mengikhlaskan, nyatanya tidak cukup mudah untuk mengabaikan jutaan kenangan yang berseliweran. Terutama di moment special seperti hari raya.

Mungkin banyak di antara Mamos yang cukup tegar untuk menyisihkan perasaan sedih. Namun ketika kenangan itu kemudian terhubung dengan tahapan selanjutnya yaitu buah hati, tentu perlu usaha besar untuk membuat hati terus tegar. Beruntung bagi Mamos yang berada dalam support sistem yang baik.

Support sistem ini umumnya berbentuk keluarga dan teman. Mereka yang memberikan dukungan dan memberikan perhatian lebih mengingat status anak-anak Mamos. Anak-anak yang kehilangan sosok ayah sebagai kepala keluarga dan sebagai tempat bermanja. Perhatian yang diberikan untuk menunjukkan pada anak-anak Mamos bahwa mereka tidak sendiri.

Dari beberapa cerita Mamos di komunitas Single Moms Indonesia, menerima perhatian dari sekitar seringkali membuat mereka merasa sedih dan… malu. Terutama jika perhatian yang diberikan berwujud materi. Entah Uang THR atau barang-barang untuk berhari raya. Lalu bagaimana seharusnya seorang single mom menerima perhatian dan kasih sayang dari support sistem mereka dengan hati yang ringan?

Menyikapi pemberian kasih sayang untuk anak single mom

 

Kali ini salah satu volunteer SMI yaitu Mbak Veranty, akan berbagi cerita dengan Mamos semua, melalui sebuah tanya jawab dengan redaksi official blog SMI.

  • Sejak kapan Mbak Veranty menyandang status sebagai single mom?

Saya menjadi single mom sejak 1 November 2020. Waktu itu suami berpulang dengan diagnosa positif Covid-19.

  • Berapa putra/putri Mbak Veranty dan usia mereka saat ini?

Kami memiliki 3 orang putri. Di tahun 2024 ini insyaallah mereka akan berusia 16 tahun, 12 tahun dan 10 tahun.

  • Mbak Veranty pasti juga memiliki support sistem yang memberikan perhatian sejak suami berpulang. Siapa saja mereka?

Yang pasti orang tua saya, meskipun sebenarnya kami di posisi yang saling menguatkan ya. Karena orang tua saya juga sangat sedih dengan berpulangnya almarhum, apalagi melihat anaknya kehilangan suami dan cucu-cucunya kehilangan papanya di usia yang masih kecil.

Selain itu ada juga support dari keluarga besar lainnya, teman-teman kami, senior, atasan, teman kantor, tetangga, saudara-saudara, guru-guru sekolah anak-anak, sesama orang tua murid. Alhamdulillah, support systemnya cukup luas. Apalagi ditambah komunitas Single Moms Indonesia ini. Jadi enggak merasa sendirian, enggak merasa jadi orang aneh.

  • Bagaimana mereka menunjukkan support dan perhatian pada Mbak Veranty dan anak-anak?

Waktu suami baru berpulang kami isolasi mandiri karena Covid. Jadi memang kita enggak bisa menerima kunjungan orang-orang ke rumah. Enggak bisa ketemuan secara langsung. Di periode itu rasanya sunyi, sepi, hanya kita saja di rumah. Support dan perhatian datang berupa pertanyaan tentang kabar, bagaimana keadaan saya dan anak-anak. Juga kami enggak pernah kekurangan makanan. Ada periode di mana setiap hari selalu ada yang kirim makanan.

Semua perhatian itu terus berlanjut hingga saat ini. Bahkan, saya juga bisa meminta sekadar saran dan bantuan urusan sehari-hari, seperti sekolah anak, urusan kendaraan, dan lain sebagainya.

  • Apakah mereka juga menunjukkan dalam bentuk pemberian secara materi?

Iya, kami menerima banyak support berupa uang juga, terutama saat suami baru berpulang. Tapi kemudian, kami mulai menerima zakat, donasi atau santunan anak yatim secara rutin. Hmm, ini yang menimbulkan perasaan yang sulit dijelaskan.

  • Bagaimana perasaan Mbak Veranty sebagai single mom ketika pertama kali atau ketika awal-awal suami berpulang dengan perhatian berwujud materi ini?

Saya pikir di awal-awal suami berpulang pemberian uang ini memang umum ya. Uang duka untuk membantu proses pemakaman dan hal-hal lain yang perlu diurus. Yang rasanya campur aduk itu ketika kemudian anak-anak menerima jatah zakat, donasi, santunan.

Saya meminta izin ke guru mereka agar anak-anak tidak perlu hadir pada saat acara santunan. Jujur saya sampaikan ucapan terima kasih atas segala perhatiannya, bukan saya menolak hak anak-anak saya, namun saya belum sanggup melihat anak-anak saya dibariskan di depan untuk menerima santunan.

Meskipun saya sadar bahwa ini merupakan bukti perhatian dan support kepada kami. Tapi ada rasa tidak ingin anak-anak saya merasa berbeda dari teman-temannya yang lain. Entahlah, tidak sekali dua kali saya berpikir, “Apa ada rasa sombong di hati saya?” Astaghfirullah.

  • Setelah beberapa tahun suami berpulang, apakah perasaan tentang pemberian materi sebagai wujud kasih sayang dari sekitar itu telah berubah?

Berubah. Saya jadi lebih santai jika ada yang memberikan materi atau santunan kepada anak-anak. Saya mengingatkan mereka untuk mendoakan orang-orang yang memberikan perhatian kepada mereka, apa pun bentuknya. Mungkin semakin ke sini saya menjadi santai karena saya mulai bisa melihat bahwa anak-anak tidak tumbuh menjadi lemah semata karena menerima pemberian.

  • Bagaimana Mbak Veranty memberikan pengertian anak-anak untuk menyikapi perhatian secara materi dari sekitar ini pada Mbak dan anak-anak?

Sebenarnya ketika saya minta mereka untuk tidak hadir di acara santunan, mereka bertanya kenapa? Saya sampaikan dengan jujur, “Mama sedih kalau anak-anak Mama harus berbaris di depan untuk menerima santunan. Mama jadi inget Papa.” Akhirnya memang donasi itu tetap disampaikan ke mereka, tanpa harus hadir berjajar menerima sumbangan.

Seiring berjalannya waktu, rasanya memang semakin bisa beradaptasi. Setiap menerima sesuatu untuk anak-anak, saya sebutkan pemberian ini dari siapa. Lalu, saya ajak mereka untuk mendoakan si pemberi. Mereka paham banyak yang sayang sama mereka. Juga banyak yang ingin berbagi karena mereka ini anak-anak yatim. Namun, mereka juga kami ajarkan untuk tidak pernah meminta. Menerima dengan santun jika diberi, dan tidak meminta-minta sesuatu dari orang lain.

Anak-anak juga diajak untuk memberi kepada orang lain yang membutuhkan. Harapannya ini bisa membuat mereka tetap bersyukur atas kehidupan yang dijalani sekarang.

  • Apa pesan Mbak Veranty sebagai single mom untuk Mamos yang tahun ini masih berharu biru dalam perayaan hari raya karena suami berpulang?

Silakan mengharu biru. Memang begitu rasanya. Ramadhan, Idul Fitri, dan hari-hari spesial akan selalu membawa rasa rindu akan segala kebersamaan. Lalu bersyukurlah kepada Allah SWT, atas semua keindahan yang Ia anugerahkan kepada kita. Karena kita telah diberikan kesempatan untuk merasakan semua cinta itu dalam hidup. Jangan berhenti untuk menularkan segala rasa sayang dan syukur kepada anak-anak kita sebagai bekal hingga mereka dewasa nanti.

Semoga sharing dari Mbak Veranty bisa menjadi teman bagi Mamos yang pertama kali melewati hari raya tanpa pasangan. Karena setiap naskah kehidupan ditulis oleh sutradara terbaik, maka bawalah hati kita percaya bahwa semua yang terjadi adalah bagian terindah yang telah ditetapkan untuk kita oleh Sang Pencipta.

Selamat menyambut hari raya dengan bahagia, Mamos. Happy mom, happy kids.

 

Ilustrator: Ans

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *