Kembali Ke Sekolah Tanpa Kehadiran Ayah

Halo Mamos! Bagaimana liburan bersama anak-anak? Semoga menyenangkan dan menjadi pengalaman tak terlupakan, ya.  Sebentar lagi anak Mamos akan kembali ke sekolah setelah liburan sekolah, nih.  Bagi anak-anak keluarga ibu tunggal, kembali ke sekolah atau hari pertama sekolah tanpa kehadiran ayah dalam hidupnya adalah masa transisi yang besar.

Untuk membantu anak-anak Mamos beradaptasi dan menyesuaikan diri kembali ke sekolah, berikut tips yang dapat Mamos lakukan untuk menemani mereka saat harus beradaptasi kembali ke sekolah tanpa kehadiran ayahnya:

 

Kembali Ke Sekolah Tanpa Kehadiran Ayah

Hadir seutuhnya untuk menggali dan memvalidasi perasaan anak

Pemahaman tiap anak tentunya berbeda sesuai umurnya.  Tugas kita adalah menggali pemahaman anak akan situasi yang terjadi saat ini.  Anak saya kehilangan ayahnya ketika berusia empat tahun dan masih duduk di bangku TK.  Dua tahun pertama di bangku TK rasanya terlewati dengan cukup baik karena anak lebih fokus dengan bermain dengan teman sekolah dan saya berusaha hadir seutuhnya untuk dia.  Setiap pulang sekolah dia terlihat senang dan cerita menceritakan kegiatan di sekolah. Tentu ada momen-momen sedih dan rindu pada ayahnya, tetapi saat itu lebih mudah untuk menenangkannya dan memberikan pemahaman.

Ketika dia mulai masuk kelas 1 SD, sikapnya agak berubah. Dia cenderung lebih sering terlihat kesal, sedih dan merasa iri setiap pulang sekolah karena melihat teman-teman sekolah dijemput oleh ayah-ayah mereka. Sosok mata dan raut mukanya memendam rasa kecewa karena dia tidak merasakan pengalaman itu. Pemahamannya saat  usia masuk jenjang SD tentunya sudah lebih berkembang.

Lagi-lagi, yang saya selalu lakukan adalah menggali semua perasaannya dan menvalidasi apa yang dia rasakan.  Akan ada saatnya mereka mendengar perkataan tidak nyaman dari teman sekolah atau lingkungan sekitar.  Dengarkan cerita mereka tanpa harus mengomentari yang membuat hatinya semakin terluka.  Kita harus melakukan hal itu agar mereka merasa nyaman berproses.

Bangun support system bersama pihak sekolah. Terutama saat kembali ke sekolah dalam kondisi yang berbeda.

Sebagai ibu tunggal, kita perlu membangun berbagai support group, termasuk dengan pihak sekolah. Seringlah berkomunikasi dengan wali kelas atau pihak lainnya, seperti guru BP. Yang selalu saya lakukan pertama kali dengan pihak sekolah adalah menginformasikan wali kelas tentang situasi keluarga kami, khususnya keadaan emosional anak saya.  Saya ingin ketika anak saya sedih saat berada dalam kelas, wali kelasnya dapat membantu dia menghadapi perasaan ‘berbeda’ di kelasnya. 

Apalagi akan ada pelajaran-pelajaran terkait tentang sosok ayah.  Saya menginformasikan wali kelas bahwa akan ada waktu-waktu tertentu anak saya akan menangis, sensitif dan menjadi mellow karena beberapa hal.  Alhamdulillah anak saya selalu mendapat wali kelas yang pengertian dan empatinya besar.  Anak saya dulu sering bercerita kalau dia sedih dan menangis, wali kelasnya selalu berusaha menenangkan sehingga tingkat kepercayaan diri anak saya juga baik.

Ceritakan tentang berbagai tipe keluarga

Anak-anak perlu tahu bahwa setiap keluarga diciptakan berbeda-beda dan mempunyai pengalaman masing-masing. Saya mengenalkan beberapa tipe keluarga bahwa ada teman yang memiliki ayah dan ibu, ada yang memiliki satu ayah atau satu ibu, ada yang memiliki dua ayah dan dua ibu, ada yang sama sekali tidak punya ayah dan ibu, dan kondisi lainnya. 

Tujuan saya adalah memperlihatkan kondisi yang terjadi dalam kehidupan sekitar kita, dengan begitu anak tidak merasa berbeda sendirian. Pesan berulang tentang keragaman keluarga membantu anak-anak merasa aman dan nyaman sehingga tidak merasa berbeda dan perlahan bisa menerima ‘keunikan’ keluarganya sendiri.

Mamos tetap bisa menceritakan kenangan baik mereka bersama sang ayah, sembari mendekatkan figur ayah lainnya yang dimiliki dalam hidup mereka saat ini, seperti kakek, paman atau teman keluarga dekat yang bersedia membantu mengisi kekosongan hatinya. Yang terpenting, anak perlu tahu bahwa mereka berada di dalam lingkungan sehat dan positif, tidak akan pernah kekurangan kasih sayang karena Mamos pun selalu ada untuk dirinya.

Tetap jalankan rutinitas dan peraturan keluarga

Perubahan besar sedang terjadi dalam hidup anak kita yang tentunya memengaruhi emosi dan perilakunya, seperti tingkat konsentrasi belajar dan interaksi bersama teman sekolah.  Terkadang sebagai ibu tunggal, rasa kasihan kepada anak membuat kita menjadi lebih lunak atau lebih memaklumi keadaan, tetapi anak-anak tetap perlu menjalankan rutinitas dan peraturan keluarga (seperti jam belajar, jam tidur, dll.). 

Hal  itu membantu mereka untuk  merasa ‘normal’ dan kita tetap menyesuaikan ekspektasi pada dirinya.  Saya menurunkan ekspektasi bahwa anak tidak harus selalu dapat nilai bagus, namun saya tetap menjalankan peraturan sehari-hari, misalnya tetap harus belajar, tidur dan main sesuai waktunya.

Cari solusi bersama anak

Apapun yang anak rasakan dan alami di sekolah, ajaklah mereka berkomunikasi untuk mencari solusi terbaik.  Ketika mereka merasa sedih karena tidak bisa dijemput oleh ayahnya, tawarkan apa yang bisa dilakukan atau bagaimana kita bisa membantu agar perasaan sedihnya berkurang? Tawarkan apakah dia ingin dijemput oleh paman/kakeknya.   Saat kita dan anak menemukan solusi bersama, kita membangun hubungan keluarga yang lebih bahagia, lebih sehat, dan lebih kuat bersama anak.

Tentunya ini adalah pengalaman pribadi. Setiap perjalanan hidup itu unik dan membawa tantangan yang berbeda-beda. Semoga Mamos menemukan caranya sendiri untuk membantu anak kembali ke sekolah setelah mengalami perubahan besar dalam hidupnya.  Jika Mamos merasa kewalahan dengan perubahan anak di sekolah, jangan takut untuk mencari bantuan dari pihak sekolah maupun tenaga profesional, ya.

Editor: Ans

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *