Tentang Co-Parenting

Co-parenting secara damai dengan mantan ternyata dapat memberikan stabilitas anak-anak dan menguatkan hubungan dekat dengan kedua orang tua – tapi tidak selamanya hal ini bisa berjalan dengan lancar. Mengesampingkan masalah antara diri kita dan mantan untuk bisa co-parenting bisa menimbulkan stress. Tapi dibalik banyaknya tantangan, menjalin hubungan kerjasama yang baik dengan mantan demi anak bukan hal yang mustahil. Tips-tips di bawah ini dapat membantu kamu untuk tetap tenang, konsisten dan menghindari atau menyelesaikan konflik antara diri kamu dan mantan supaya hak asuh bersama berjalan lancar.

Tentang Co-Parenting

Co-parenting setelah perpisahan atau perceraian

Co-parenting adalah hubungan kerja sama antara ayah dan ibu dalam hal pengasuhan anak. Co-Parenting mengedepankan peran aktif kedua orang tua dalam membesarkan anaknya secara bersama-sama. Pengaturan hak asuh bersama (joint custody), terutama setelah perpisahan yang sengit, dapat melelahkan dan menyebalkan. Melepaskan masa lalu dengan mantan yang menyakitkan tidak gampang, malah bisa menjadi hal yang sulit dilakukan. Membuat keputusan bersama, berinteraksi saat antar-jemput anak, atau sekedar mesti berbicara dengan orang yang mungkin mau kita lupakan rasanya menjadi beban yang impossible. Tapi perlu diingat bahwa walaupun co-parenting ini tidak mudah, ini adalah cara terbaik untuk memastikan kebutuhan anak-anak kita terpenuhi dan mereka memiliki hubungan dekat dengan kedua orang tua.

Mungkin bisa membantu jika kita menilai hubungan dengan mantan sebagai sesuatu yang benar-benar baru, sesuatu yang sepenuhnya tentang kesejahteraan anak-anak kita, bukan tentang mantan istri atau mantan suami. Anggap saja mantan kita sebagai mitra bisnis. Bisnis mendidik anak-anak. Pernikahan kita mungkin berakhir, tapi tidak pernah ada istilah mantan anak. Melakukan yang terbaik untuk anak-anak kita adalah prioritas terpenting. Langkap pertama adalah menjadi lebih dewasa, co-parenting secara bertanggung jawab adalah selalu menempatkan kebutuhan anak-anak kita di atas kebutuhan ego pribadi kita.

Co-parenting adalah pilihan terbaik untuk anak-anak kita

Melalui kemitraan orangtua, anak-anak akan mengenali bahwa mereka lebih penting daripada konflik yang menyebabkan berakhirnya pernikahan orangtuanya-dan memahami bahwa cinta kita untuk mereka akan menang meskipun perubahaan luar biasa yang terjadi di kehidupan mereka. Anak-anak yang orang tuanya bercerai dan dapat bekerjasama dengan baik:

  • Merasa aman. Saat anak-anak yakin akan cinta kasih yang diterima dari kedua orang tuanya, maka mereka dapat lebih cepat beradaptasi dengan perceraian itu sendiri dan lebih percaya diri.
  • Manfaat dari konsistensi. Co-parenting mendorong aturan serupa, disiplin, dan manfaat antara dua rumah yang berbeda (rumah ayah dan rumah ibu), anak-anak jadi tahu apa yang diharapkan dan apa yang diharapkan dari mereka.
  • Problem solving skills. Anak-anak yang melihat orangtuanya  terus bekerja sama cenderung akan mengenali cara efektif dan damai dalam pemecahan masalah.
  • Memiliki contoh yang sehat untuk diikuti. Dengan bekerjasama dengan mantan suami, kita secara tidak langsung mengajarkan pola hidup yang baik bagi anak-anak.

Co-parenting tips: Mengesampingkan amarah dan sakit hati

Kunci untuk menjalankan co-parenting adalah fokus pada anak-dan hanya pada anak-anak saja! Yes, ini bisa sangat sulit. Ini berarti mendorong semua emosi-kemarahan, kebencian, atau sakit hati- jauh-jauh demi kebutuhan anak-anak kita. Memang, menyisihkan perasaan yang kuat tersebut dapat menjadi bagian tersulit dari proses belajar untuk bekerja sama dengan mantan kita, tetapi juga mungkin yang paling penting. Co-parenting bukan tentang perasaan kita, atau mantan kita, melainkan tentang kebahagiaan, stabilitas, dan masa depan kesejahteraan anak-anak yang orangtuanya berpisah.

Memisahkan perasaan dari perilaku

It’s okay untuk merasa terluka dan marah, tapi perasaan kita tidak perlu mendikte perilaku kita juga. Sebaliknya, biarkan apa yang terbaik untuk anak-anak – yaitu kita bekerjasama dengan mantan secara baik – menjadi motivasi tindakan kita.

  • Curhat di tempat lain. Jangan pernah melampiaskan perasaan kita kepada anak. Sahabat atau terapis bisa menjadi pendengar yang baik ketika kita perlu curhat. Olahraga juga dapat menjadi outlet sehat untuk melepaskan kekesalan.
  • Fokus pada anak. Jika kita merasa marah atau kesal, cobalah untuk mengingat mengapa kita melakukan ini semua dengan tujuan dan niat baik: kepentingan terbaik untuk anak adalah taruhannya. Jika kemarahan itu sangat menyulut, mungkin dengan melihat foto anak kita dapat menenangkan diri.
Menempatkan Anak

Kita mungkin tidak akan bisa benar-benar menghapus semua kebencian atau kepahitan tentang perceraian kita, tetapi kita dapat memilah-milah perasaan itu dan mengingatkan diri sendiri bahwa semua perasaan itu adalah masalah kita, bukan masalah anak-anak. Pastikan kita tidak melibatkan anak-anak didalam masalah dengan mantan pasangan.

  • Jangan pernah menggunakan anak-anak sebagai messenger. Jika kita menyuruh anak untuk menjadi pembawa pesan, kita menempatkan anak kita ditengah konflik. Tujuannya adalah tidak melibatkan anak-anak dari masalah hubungan kita dengan mantan pasangan, jadi hubungilah si ex sendiri.
  • Simpan masalah dari anak-anak. Jangan pernah mengatakan hal-hal negatif tentang mantan kepada anak-anak, atau membuat mereka merasa seperti mereka harus memilih. Anak-anak memiliki hak untuk berhubungan dengan orang tuanya yang lain tanpa pengaruh kita.

Co-parenting tips untuk orang tua: Berkomunikasi dengan mantan

Kesuksesan co-parenting membutuhkan modal komunikasi yang konsisten, damai dan beritikad baik – meskipun mungkin seperti hal yang mustahil. Semuanya dimulai dari pola pikir. Pandanglah komunikasi dengan mantan sebagai sesuatu dengan tujuan tertinggi: kesejahteraan anak! Sebelum kontak dengan mantan, tanyakan pada diri sendiri bagaimana hasil pembicaraan tersebut dapat mempengaruhi anak dan pilih untuk membawa diri dengan martabat. Letakkan anak sebagai titik fokus dari setiap diskusi kita dengan mantan pasangan.

Komunikasi dengan mantan mungkin menjadi tugas berat. Ingat bahwa komunikasi dengan mantan tidak selalu harus dilakukan dengan tatap muka, berbicara di telefon atau SMS, atau email juga dapat efektif. Tujuannya adalah untuk membangun komunikasi bebas konflik, jadi silahkan pilih bentuk komunikasi yang terbaik untuk kamu. Apakah berbicara melalui email, telepon, atau secara pribadi, metode berikut dapat membantu Anda memulai dan menjaga komunikasi yang efektif:

  • Anggap saja seperti bisnis! Pendekatan hubungan dengan mantan Anda sebagai kemitraan bisnis di mana “bisnis” Anda adalah kesejahteraan anak-anak. Berbicara atau menulis ke mantan Anda seperti yang Anda lakukan kepada rekan kerja-dengan keramahan, menghormati, dan netral. Relaks, tarik napas dan berbicara secara perlahan.
  • Buat permintaan. Alih-alih membuat pernyataan, yang dapat disalahartikan sebagai tuntutan, cobalah membingkai sebanyak yang Anda bisa sebagai permintaan. Permintaan bisa mulai “Apakah kamu bersedia untuk …?” atau “Bisakah kita mencoba …?”
  • Mendengarkan. Berkomunikasi secara dewasa dimulai dengan mendengarkan. Bahkan jika Anda berakhir tidak setuju dengan mantan, Anda setidaknya harus dapat menyampaikan kepada mantan Anda bahwa Anda telah memahami sudut pandangnya. Mendengarkan bukan lantas berarti kita setuju, jadi sebenarnya kita tidak akan kehilangan apa-apa dengan mengijinkan mantan untuk menyuarakan pendapatnya.
  • Menahan diri. Perlu diingat bahwa berkomunikasi dengan satu sama lain akan menjadi kebutuhan selama anak masih kecil – bahkan lebih. Kita dapat melatih diri untuk tidak bereaksi berlebihan terhadap mantan Anda, dan dengan waktu, kita dapat menjadi lebih sabar jika mantan berusaha membuat kita marah.
  • Berkomitmen untuk bertemu/berkomunikasi secara konsisten. Komunikasi yang konsisten dengan mantan akan menunjukkan kepada anak bahwa orang tua mereka adalah satu tim. Diawal perceraian hal ini bisa terasa sangat sulit.
  • Fokuslah pada pembicaraan urusan anak. Kita dapat menjaga isi komunikasi dengan mantan. Jangan biarkan diskusi dengan ngelantur menjadi percakapan tentang kebutuhan kita atau si mantan. Pastikan pembicaraan selalu tetang kebutuhan anak saja.

 

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *